Agar tidak salah dalam memilih, investor harus tahu caranya

membaca laporan keuangan perusahaan. Padahal, seorang investor saham harus mengetahui dan memahami cara membaca laporan keuangan.

HUJANBATU.COM – Cara membaca laporan keuangan sebenarnya harus diketahui dan dipahami oleh seorang investor saham. Bagi para investor saham, membaca laporan keuangan saham yang dimilikinya merupakan kewajiban untuk meningkatkan kepercayaan dalam berinvestasi.
Memahami dan mengetahui kinerja suatu perusahaan dari laporan keuangannya disebut juga dengan analisis fundamental. Harga saham suatu perusahaan biasanya cenderung bergerak sesuai dengan fundamentalnya. Jika fundamentalnya bagus, maka harga akan cenderung naik, begitu juga sebaliknya.
Membaca laporan keuangan sebenarnya sulit dan mudah, asalkan Anda memiliki keinginan untuk menguasainya secara bertahap.
Secara garis besar ada empat laporan yang disampaikan oleh suatu emiten dalam suatu dokumen laporan keuangan, baik triwulanan maupun tahunan, yaitu Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas. Berikut cara cepat membaca laporan keuangan perusahaan yang dikutip dari berbagai sumber.

Agar tidak salah dalam memilih, investor harus tahu caranya

  1. Laba bersih, dan/atau ekuitas meningkat

Baik perusahaan, laba bersih atau laba periode berjalan meningkat. Misal, laba bersih periode 30 September 2020 dibandingkan 30 September 2019 mengalami kenaikan. Begitu juga dengan total ekuitas.

  1. Return on equity (ROE) pada tingkat 15% atau lebih

ROE adalah tingkat pengembalian investasi. Untuk setiap keuntungan Rp 1.000, menghasilkan laba bersih minimal 15% atau lebih dalam setahun.ROE ialah penunjuk setidaknya dasar dari tilikan vital. Jika ROE bagus, kemungkinan yang lain dalam laporan keuangan juga bagus. Namun jika kurang dari 15%, berarti perusahaan tersebut tidak menguntungkan. Lantas, untuk apa saham tersebut dibeli?
Contoh penghitungan ROE:
Laba SIDO periode 30 September 2020 = Rp 640,8 miliar (9 bulan)
Total ekuitas = Rp 3,3 triliun

Laba 1 tahun = Rp 854,4 miliar

ROE = Rp 854,4 miliyar : Rp 3,3 triliun x 100 = 25,8 %

Artinya setiap Rp 1.000 investasi di SIDO menghasilkan laba bersih tahunan sekitar Rp 250.

  1. Membayar dividen 30-40% atau lebih, dari laba bersih perusahaan dalam setahun

Data pembayaran atau pembagian dividen tersedia disajikan dalam laporan keuangan, terkadang tidak. Investor dapat menemukan informasi ini di internet. Lihat total dividen yang dibagikan. Misalnya, 80% dari laba bersih perusahaan pada 2018 adalah Rp 500 miliar. Tidak hanya melihat dividen tunai interim.
Data dividen ini sangat penting. Hal ini karena suatu perusahaan mungkin mencatat laba bersih beberapa rupiah, tetapi jika tidak membayar dividen, kebenaran laba tersebut dapat diragukan.
Jika pembayaran dividen kurang dari 30-40%, itu terlalu kecil. Investor berhak mendapatkan lebih dari itu. Namun, jika lebih dari angka di atas, itu juga dapat menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sudah matang atau tidak dapat berkembang lagi. Akhirnya keuntungan dibagi dengan investor. Lalu bagaimana sebaiknya? Carilah perusahaan yang membayar dividen tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil.

  1. Hutangnya kecil, atau maksimal sama dengan nilai ekuitas.

Hutang dalam laporan keuangan biasanya disebut dengan kewajiban. Jadi, jangan heran jika tidak ada utang tertulis. Jika nilai kewajiban atau utang lebih besar dari nilai ekuitas, Anda harus berhati-hati. Meski begitu, tidak semua laporan keuangan harus digeneralisasi seperti itu. Karena ada yang menganggap nilai utang sama dengan ekuitas.

  1. Utang berbunga (utang bank, obligasi) kecil

Sebuah perusahaan yang baik adalah utang yang menanggung nilai bunga, seperti utang bank dan obligasi kecil. Karena utang jenis ini, pembayaran bunga akan menjadi beban operasional perusahaan, sehingga akan mengurangi laba bersih. Hutang bank berbeda dengan hutang bisnis. Jika tidak ada bunga dalam hutang bisnis. Misal beli bahan mentah, bayar belakangan. Nilai pembayaran tetap sama.

  1. Saldo laba positif, dan angkanya lebih besar dari modal disetor (dan tambahan modal disetor) perusahaan.

Pada laporan keuangan pada bagian ekuitas terdapat nilai modal disetor dan nilai tambahan modal disetor (add up). Kemudian ada nilai laba ditahan (sum). Saldo pendapatan harus positif, tidak negatif dan jika dijumlahkan nilainya harus lebih besar dari total modal disetor. Itu baru nama perusahaan yang tumbuh dengan baik.
Jika saldo laba yang dicatat negatif, berarti di masa lalu perusahaan terus negatif. Jika laba ditahan positif dan nilainya lebih kecil dari nilai total modal disetor, berarti tidak baik. Ada dua kemungkinan. Pertama, keuntungan perusahaan selama ini kecil, sehingga laba ditahan selama perusahaan beroperasi adalah sama. Atau kedua, sebenarnya untung besar, tapi terus dihabiskan untuk membayar deviden, agar ekuitas tidak bertambah.

  1. Perputaran aset (ATO) besar.

Rumusnya adalah nilai penjualan atau pendapatan dibagi dengan nilai total aset perusahaan. Semakin besar ATO, semakin baik. Carilah saham yang perusahaannya memiliki kinerja ATO yang tinggi.

  1. Besar Perputaran Persediaan

Rumusnya adalah nilai pendapatan atau penjualan (dalam setahun) dibagi dengan nilai persediaan. Misalnya, SIDO mencetak nilai penjualan Rp 2,8 triliun. Nilai persediaan Rp 300 miliar. Artinya, perusahaan bisa menjual hingga 9 kali. Termasuk perusahaan yang perputarannya cepat. Perputaran terus berlanjut. Nilai penjualan lebih besar dari persediaan.

  1. Rasio saat ini besar.

Rumusnya adalah aset lancar dibagi dengan kewajiban atau kewajiban lancar. Perusahaan yang baik, total aktiva lancar harus lebih besar dari utang lancar (utang jangka pendek yang jatuh tempo dalam setahun). Jika menunjukkan kinerja seperti itu, berarti perusahaan tidak memiliki risiko gagal bayar. Namun jika kondisi sebaliknya, sangat berbahaya. Bisa jadi perusahaan akan kesulitan membayar utangnya.

  1. Margin laba bersih besar

Rumusnya adalah laba bersih dibagi pendapatan atau penjualan. Misal, laba SIDO periode berjalan adalah Rp 578 miliar dibagi nilai penjualannya dalam 9 bulan sebesar Rp 2,1 triliun, dikalikan 100% hasilnya 27%. Dari pendapatan Rp 1.000 dapat diperoleh laba bersih sebesar Rp 270.
Margin keuntungan yang baik untuk manufaktur adalah 20%. Sedangkan perusahaan dagang pendistribusian barang minimal 10%. Jadi jika perusahaan manufaktur mencetak margin kurang dari 20%, berarti tidak baik.

  1. Idealnya setelah laba usaha/laba usaha hanya dikenakan beban pajak sebesar 25% dari laba usaha.

Perusahaan yang sahamnya layak dibeli harus menunjukkan bahwa mereka tidak menanggung terlalu banyak beban. Misalnya, tidak ada beban bunga atas utang. Hanya ada beban pajak (pajak penghasilan badan) sebesar 25% dari laba operasi sebelum pajak.
Investor perlu berhati-hati. Ada perusahaan yang beban pajaknya kurang dari 25% dari laba operasinya. Kemungkinan itu bukan keuntungan nyata. Hanya tercatat di buku.

  1. Idealnya, angka laba komprehensif tidak jauh berbeda dengan laba bersih (periode) tahun berjalan

Laba periode berjalan dan laba komprehensif berbeda. Laba periode atau laba bersih adalah yang diperoleh dari kegiatan operasional perusahaan. sekalipun angkanya jelas serta terdapat pula yang tidak. Sedangkan pendapatan komprehensif adalah pendapatan atau beban hutang yang tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan. Contoh kewajiban imbalan kerja. Yaitu hutang perusahaan kepada karyawan yang akan dibayarkan pada saat pensiun nanti.
Uang tersebut ditempatkan di perusahaan dana pensiun, misalnya, agar bisa dirotasi. Perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari perputaran modal. Dan tetap harus dicantumkan dalam laporan keuangan.

  1. Laporan arus kas tidak jauh berbeda dengan laporan laba rugi

amati bagian “Arus Kas dari kegiatan pembedahan”, kemudian bandingkan dengan poin perdagangan alias penghasilan serta keuntungan masa berjalan.
Misal seperti SIDO. Nilai penerimaan dari pelanggan dengan nilai penjualan hanya sedikit berbeda. semacam itu pula dengan kas bersih yang dihasilkan dari keaktifan pembedahan dengan profit rentang waktu berjalan. Nilainya tidak jauh berbeda. Jika angkanya persis sama tidak mungkin. lamun kamu harus berhati-hati jikalau nyatanya nilainya jauh berlainan. Artinya pendapatan hanya pembukuan, tidak benar-benar uang.

  1. Neraca ‘bersih’ dan sederhana. Demikian juga laporan laba

rugi. Perhatikan laporan keuangan, sederhana, tidak rumit atau rumit di bagian aset, ekuitas, kewajiban atau utang, dan lain-lain.

Akhir Kata

Itulah Artikel “Agar tidak salah dalam memilih, investor harus tahu cara“, Semoga bisa menambah wawasan kalian yah.
Jangan Lupa untuk share ke teman kalian dan kerabat kalian, agar mereka juga ikut mendapatkan Wawasan Terbaru juga.
Jika Ada kekurangan atau kritik dan saran jangan sungkan untuk komentar yah, karna itu sangat membantu kami untuk menjadi lebih baik lagi.

Leave a Comment